29 September 2016
Praktikum Pertama Bahan Bangunan Laut
Oleh Kelompok 2
1. Pemeriksaan Kadar Air Agregat
Tujuan Percobaan
Menentukan besarnya kadar air yang terkandung dalam agregat dengan cara pengeringan sehingga dapat digunakan sebagai koreksi takaran air untuk adukan beton yang disesuaikan dengan kondisi agregat di lapangan.
Alat dan Benda Uji
Alat
- Timbangan dengan ketelitian 0,1 % dari berat contoh.
- Oven dengan suhu yang dapat diatur hingga (110±5)oC.
- Talam logam tahan karat berkapasitas cukup besar bagi tempat pengeringan benda uji.
Benda Uji
Berat minimum contoh agregat dengan diameter maksimum 5 mm adalah 0,5 kg.
Prosedur Percobaan
- Timbanglah dan catat berat talam (W1).
- Masukkan benda uji ke dalam talam, kemudian timbanglah dan catat berat talam + benda uji sebagai W2.
- Hitung berat benda uji sebagai W3 = W2-W1.
- Keringkan contoh benda uji bersama talam dalam oven pada suhu (110±5)oC hingga beratnya tetap.
- Setelah kering contoh ditimbang dan catat berat benda uji + talam sebagai W4.
- Hitunglah berat benda uji kering W5 = W4-W1.
Hasil Percobaan
Menghitung kadar air dalam agregat dengan persamaan berikut.
Kadar air dalam agregat = (W3-W5)/W5×100%
dengan,
W3 = berat contoh semula (gram)
W5 = berat contoh kering (gram)
Agregat Halus
Observasi I
| ||
A
|
Berat Wadah
|
172 gram
|
B
|
Berat Wadah + Benda Uji
|
2172 gram
|
C
|
Berat Benda Uji (B-A)
|
2000 gram
|
D
|
Berat Benda Uji
|
1803 gram
|
Kadar Air = (C-D)/D ×100 %
|
10,92% [KA2]
| |
Agregat Kasar
Observasi II
| ||
A
|
Berat Wadah
|
172 gram
|
B
|
Berat Wadah + Benda Uji
|
2172 gram
|
C
|
Berat Benda Uji (B-A)
|
2000 gram
|
D
|
Berat Benda Uji
|
1870 gram
|
Kadar Air = (C-D)/D ×100 %
|
6,95% [KA2]
| |
Kadar air rata-rata = ([KA1] + [KA2])/2=8,935 %
Analisis
Berdasarkan data hasil percobaan, dapat diketahui bahwa berat benda uji yang telah melewati proses pengeringan dengan oven memiliki berat yang lebih ringan daripada berat benda uji sebelum melewati proses pengeringan dengan oven. Hal ini disebabkan benda uji sebelum melewati proses pengeringan memiliki kandungan air sehingga mempengaruhi berat benda uji. Jika penulis menganalisa dari besar nilai persentase kadar air, nilai persentase kadar air pada agregat halus lebih besar daripada nilai persentase kadar air pada agregat kasar. Hal ini disebabkan dalam ukuran volume yang sama, jumlah agregat halus lebih banyak daripada jumlah agregat kasar. Dengan demikian, secara umum, luas permukaan agregat halus lebih besar dibandingkan agregat kasar sehingga kandungan air pada agregat halus lebih banyak dibandingkan pada agregat kasar.
2. Pemeriksaan Berat Volume Agregat Halus
Tujuan Percobaan
Menentukan berat volume agregat halus yang didefinisikan sebagai perbandingan antara berat material kering dengan volumenya.
Alat dan Benda Uji
Alat
- Timbangan dengan ketelitian 0,1% berat contoh.
- Talam kapasitas cukup besar untuk mengeringkan contoh agregat.
- Tongkat pemadat diameter 15 mm, panjang 60 cm yang ujungnya bulat, terbuat dari baja tahan karat.
- Mistar perata.
- Sekop.
- Wadah baja yang cukup berbentuk silinder dengan alat pemegang sesuai dengan tabel berikut.
Kapasitas
|
Diameter
|
Tinggi
|
Tebal wadah
|
Ukuran Butir Maksimum Agregat (mm)
| |
Dasar
|
Sisi
| ||||
2,832
|
152,4±2,5
|
154,9±2,5
|
5,08
|
2,54
|
12,70
|
9,345
|
203,2±2,5
|
292,4±2,5
|
5,08
|
2,54
|
25,40
|
14,158
|
254,0±2,5
|
279,4±2,5
|
5,08
|
3,00
|
38,10
|
28,316
|
355,6±2,5
|
284,4±2,5
|
5,08
|
3,00
|
101,60
|
Agregat halus.
Prosedur Percobaan
- Masukkan agregat ke dalam talam sekurang-kurangnya sebanyak kapasitas wadah sesuai dengan tabel 3.3.
- Keringkan dengan oven pada suhu (110±5)oC sampai berat menjadi tetap untuk digunakan sebagai benda uji.
- Berat isi lepas
- Timbang dan catatlah berat wadah (W1).
- Masukkan benda uji dengan hati-hati agar tidak terjadi pemisahan butir-butir dari ketinggian 5 cm di atas wadah dengan menggunakan sendok atau sekop sampai penuh.
- Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata.
- Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2).
- Hitunglah berat benda uji (W3= W2- W1).
- Timbang dan catatlah berat wadah (W1).
- Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat yang ditusukkan sebanyak 25 kali secara merata.
- Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata.
- Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2).
- Hitunglah berat benda uji (W3= W2- W1).
Hasil Percobaan
Berat isi agregat = W3/V (kg⁄m^3 )
Observasi I
| ||
Padat
|
Gembur
| |
A. Volume Wadah
|
2,781 L
|
2,781 L
|
B. Berat Wadah
|
2,676 kg
|
2,676 kg
|
C. Berat Wadah + Benda Uji
|
6,973 kg
|
6,638 kg
|
D. Berat Benda Uji (C-B)
|
4,297 kg
|
3,962 kg
|
Berat Volume (D/A)
|
1,545 kg/L
|
1,425 kg/L
|
Observasi II
| ||
Padat
|
Gembur
| |
A. Volume Wadah
|
2,781 L
|
2,781 L
|
B. Berat Wadah
|
2,676 kg
|
2,676 kg
|
C. Berat Wadah + Benda Uji
|
6,972 kg
|
6,638 kg
|
D. Berat Benda Uji (C-B)
|
4,296 kg
|
3,962 kg
|
Berat Volume (D/A)
|
1,545 kg/L
|
1,425 kg/L
|
Berat Volume Rata-Rata
Kondisi Padat = ((D/A)_1+(D/A)_2)/2=1,545 kg/L
Kondisi Gembur = ((D/A)_1+(D/A)_2)/2=1,425 kg/L
Analisis
Berdasarkan data hasil percobaan, dapat diketahui bahwa nilai berat volume agregat halus dalam kondisi padat lebih besar dibandingkan nilai berat volume agregat halus dalam kondisi gembur. Hal ini disebabkan adanya perbedaan perlakuan terhadap dua kondisi tersebut. Untuk mencapai kondisi padat, sebelumnya telah dilakukan penumbukan sebanyak 25 kali. Perlakuan ini tentu menyebabkan pori-pori/celah antar agregat halus memadat sehingga jumlah agregat halus pada wadah semakin banyak dan meningkatkan besar berat benda uji. Sedangkan pada agregat halus dalam kondisi gembur tidak dilakukan penumbukan sama sekali sehingga celah kosong diantara agregat halus lebih banyak dibanding agregat halus dalam kondisi padat. Kondisi gembur ini menyebabkan berat jenis agregat pada keadaan gembur menjadi lebih kecil karena besar berat benda uji yang kecil.
3. Pemeriksaan Berat Volume Agregat Kasar
Tujuan Percobaan
Menghitung berat volume agregat kasar yang didefinisikan sebagai perbandingan antara berat material kering dengan volumenya.
Alat dan Benda Uji
Alat
- Timbangan dengan ketelitian 0,1% berat contoh.
- Talam kapasitas cukup besar untuk mengeringkan contoh agregat.
- Tongkat pemadat diameter 15 mm, panjang 60 cm yang ujungnya bulat, terbuat dari baja tahan karat.
- Mistar perata.
- Sekop.
- Wadah baja yang cukup berbentuk silinder dengan alat pemegang sesuai dengan tabel berikut.
Kapasitas
|
Diameter
|
Tinggi
|
Tebal wadah
|
Ukuran Butir Maksimum Agregat (mm)
| |
Dasar
|
Sisi
| ||||
2,832
|
152,4±2,5
|
154,9±2,5
|
5,08
|
2,54
|
12,70
|
9,345
|
203,2±2,5
|
292,4±2,5
|
5,08
|
2,54
|
25,40
|
14,158
|
254,0±2,5
|
279,4±2,5
|
5,08
|
3,00
|
38,10
|
28,316
|
355,6±2,5
|
284,4±2,5
|
5,08
|
3,00
|
101,60
|
Benda Uji
Agregat kasar.
Prosedur Percobaan
- Masukkan agregat ke dalam talam sekurang-kurangnya sebanyak kapasitas wadah sesuai dengan tabel 3.6.
- Keringkan dengan oven pada suhu (110±5)oC sampai berat menjadi tetap untuk digunakan sebagai benda uji.
- Berat isi lepas
- Timbang dan catatlah berat wadah (W1).
- Masukkan benda uji dengan hati-hati agar tidak terjadi pemisahan butir-butir dari ketinggian 5 cm di atas wadah dengan menggunakan sendok atau sekop sampai penuh.
- Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata.
- Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2).
- Hitunglah berat benda uji (W3= W2- W1).
- Timbang dan catatlah berat wadah (W1).
- Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal.
- Padatkan setiap lapis dengan cara menggoyang-goyangkan wadah dengan prosedur sebagai berikut.
- Letakkan wadah di atas tempat yang kokoh dan datar, angkatlah salah satu sisinya kira-kira setinggi 5 cm kemudian lepaskan.
- Ulangi hal ini pada sisi yang berlawanan.
- Padatkan lapisan sebanyak 25 kali untuk setiap sisi.
- Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata.
- Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2).
- Hitunglah berat benda uji (W3= W2- W1).
Hasil Percobaan
Berat isi agregat = W3/V (kg⁄m^3 )
Observasi I
| ||
Padat
|
Gembur
| |
A. Volume Wadah
|
2,781 L
|
2,781 L
|
B. Berat Wadah
|
2,676 kg
|
2,676 kg
|
C. Berat Wadah + Benda Uji
|
6,616 kg
|
6,191 kg
|
D. Berat Benda Uji (C-B)
|
3,940 kg
|
3,515 kg
|
Berat Volume (D/A)
|
1,416 kg/L
|
1,263 kg/L
|
Observasi II
| ||
Padat
|
Gembur
| |
A. Volume Wadah
|
2,781 L
|
2,781 L
|
B. Berat Wadah
|
2,676 kg
|
2,676 kg
|
C. Berat Wadah + Benda Uji
|
6,616 kg
|
6,191 kg
|
D. Berat Benda Uji (C-B)
|
3,940 kg
|
3,515 kg
|
Berat Volume (D/A)
|
1,417 kg/L
|
1,264 kg/L
|
Berat Volume Rata-Rata
Kondisi Padat = ((D/A)_1+(D/A)_2)/2=1,4165
Kondisi Gembur = ((D/A)_1+(D/A)_2)/2=1,2635
Analisis
Berdasarkan data hasil percobaan, dapat diketahui bahwa nilai berat volume agregat kasar dalam kondisi padat lebih besar dibandingkan nilai berat volume agregat kasar dalam kondisi gembur. Hal ini disebabkan adanya perbedaan perlakuan terhadap dua kondisi tersebut. Untuk mencapai kondisi padat, sebelumnya telah dilakukan penumbukan sebanyak 25 kali. Perlakuan ini tentu menyebabkan pori-pori/celah antar agregat kasar memadat sehingga jumlah agregat kasar pada wadah semakin banyak dan meningkatkan besar berat benda uji. Sedangkan pada agregat kasar dalam kondisi gembur tidak dilakukan penumbukan sama sekali sehingga celah kosong diantara agregat kasar lebih banyak dibanding agregat kasar dalam kondisi padat. Kondisi gembur ini menyebabkan berat jenis agregat pada keadaan gembur menjadi lebih kecil karena besar berat benda uji yang kecil.
4. Analisis Spesific Gravity dan Penyerapan Agregat Halus
Tujuan Percobaan
Menentukan specific gravity dan penyerapan agregat halus sehingga selanjutnya dapat menentukan nilai bulk specific gravity, bulk specific gravity SSD, atau apparent specific gravity.
Alat dan Benda Uji
Alat
- Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram atau kurang yang mempunyai kapasitas minimum sebesar 1000 gram atau lebih.
- Piknometer dengan kapasitas 500 gram.
- Cetakan kerucut pasir.
- Tongkat pemadat dari logam untuk cetakan kerucut pasir.
Benda Uji
Agregat halus dengan berat 1000 gram dan diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat pemisah atau perempatan.
Prosedur Percobaan
- Agregat halus yang jenuh air dikeringkan sampai diperoleh kondisi kering dengan indikasi contoh tercurah baik.
- Sebagian dari contoh dimasukan dalam metal sand cone mold. Benda uji dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper). Jumlah tumbukan adalah 25 kali. Kondisi SSD diperoleh, jika cetakan diangkat, butir-butir pasir longsor/runtuh.
- Contoh agregat halus sebesar 500 gr dimasukkan ke dalam piknometer. Kemudian piknometer diisi dengan air sampai 90% penuh. Bebaskan gelembung-gelembung udara dengan cara menggoyang-goyangkan piknometer, redamlah piknometer dengan suhu air (73,4±3)oF selama 24 jam. Timbang berat piknometer yang berisi contoh dan air.
- Pisahkan benda uji dari piknometer dan keringkan pada suhu (213±130)oF. Langkah ini harus diselesaikan dalam waktu 24 jam (satu hari).
- Timbanglah berat piknometer yang berisi air sesuai dengan kapasitas kalibrasi pada temperatur (73,4±3)oF dengan ketelitian 0,1 gram.
Hasil Percobaan
Observasi I
| ||
A. Berat Piknometer
|
172 gram
| |
B. Berat Contoh Kondisi SSD
|
500 gram
| |
C. Berat Piknometer + Air + Contoh SSD
|
956 gram
| |
D. Berat Piknometer + Air
|
669 gram
| |
E. Berat Contoh Kering
|
476 gram
| |
Apparent Specific Gravity
|
E / (E+D-C)
|
2,518
|
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering
|
E / (B+D-C)
|
2,235
|
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
|
B / (B+D-C)
|
2,347
|
Persentase absorpsi
|
(B-E) / E x 100%
|
5,04%
|
Observasi II
| ||
A. Berat Piknometer
|
173 gram
| |
B. Berat Contoh Kondisi SSD
|
500 gram
| |
C. Berat Piknometer + Air + Contoh SSD
|
955 gram
| |
D. Berat Piknometer + Air
|
669 gram
| |
E. Berat Contoh Kering
|
476 gram
| |
Apparent Specific Gravity
|
E / (E+D-C)
|
2,505
|
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering
|
E / (B+D-C)
|
2,224
|
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
|
B / (B+D-C)
|
2,336
|
Persentase absorpsi
|
(B-E) / E x 100%
|
5,04%
|
Rata-Rata
| |
Apparent Specific Gravity
|
2,512
|
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering
|
2,229
|
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
|
2,342
|
Persentase absorpsi
|
5,04%
|
Berdasarkan data hasil percobaan, terdapat dua kondisi yaitu kondisi SSD dan kondisi kering. Kondisi SSD (Surface Saturated Dry) adalah kondisi saat permukaan luar agregat dalam keadaan kering namun bagian dalam rongga-rongga agregat masih memiliki kandungan air. Kondisi kering adalah kondisi agregat setelah melewati proses pemanasan dalam oven hingga bagian permukaan dan bagian dalam rongga agregat kering. Untuk menentukan kondisi kering ideal suatu agregat, perlu ditentukan terlebih dahulu persentase absorpsi air dari agregat. Kondisi agregat yang biasa digunakan adalah kondisi SSD, sehingga dengan mengetahui persentase absorpsi air dari agregat dengan kondisi tersebut, selanjutnya akan mudah untuk menentukan jumlah air yang perlu ditambahkan saat melakukan mix design.
5. Analisis Spesific Gravity dan Penyerapan Agregat Kasar
Tujuan Percobaan
Menentukan specific gravity dan penyerapan agregat kasar sehingga selanjutnya dapat menentukan nilai bulk specific gravity, bulk specific gravity SSD, atau apparent specific gravity.
Alat dan Benda Uji
Alat
- Timbangan dengan ketelitian 0,5 gram yang mempunyai kapasitas 5 kg.
- Keranjang besi diameter 203,2 mm (8'') dan tinggi 63,5 mm (2,5'').
- Alat penggantung keranjang.
- Handuk atau kain pel.
Benda Uji
Agregat kasar dengan dengan berat 11 L dalam keadaan kering muka (SSD = Surface Saturated Dry) yang diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat pemisah atau cara perempatan. Butiran agregat yang lolos saringan nomor 4 tidak dapat digunakan sebagai benda uji.
Prosedur Percobaan
- Benda uji direndam selama 24 jam.
- Benda uji dikeringkan permukaannya (kondisi SSD) dengan menggulungkan handuk pada butiran.
- Timbang contoh dan hitung berat contoh kondisi SSD sebagai A.
- Contoh benda uji dimasukkan ke keranjang dan direndam kembali di dalam air. Temperatur air dijaga (73,4±3)oF dan kemudian ditimbang. Setelah itu, keranjang digoyang-goyangkan di dalam air untuk melepaskan udara yang terperangkap. Hitung berat contoh kondisi jenuh sebagai B.
- Contoh dikeringkan pada temperatur (212-130)oF. Setelah didinginkan, contoh kemudian ditimbang. Hitung berat contoh kondisi kering sebagai C.
Hasil Percobaan
Observasi I
| ||
A. Berat Contoh SSD
|
3000 gram
| |
B. Berat Contoh dalam Air
|
1769 gram
| |
C. Berat Contoh Kering Udara
|
2759 gram
| |
Apparent Specific Gravity
|
C / (C-B)
|
2,787
|
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering
|
C / (A-B)
|
2,241
|
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
|
A / (A-B)
|
2,437
|
Persentase absorpsi
|
(A-C) / C x 100%
|
8,73%
|
Observasi II
| ||
A. Berat Contoh SSD
|
2952 gram
| |
B. Berat Contoh dalam Air
|
1769 gram
| |
C. Berat Contoh Kering Udara
|
2759 gram
| |
Apparent Specific Gravity
|
C / (C-B)
|
2,787
|
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering
|
C / (A-B)
|
2,332
|
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
|
A / (A-B)
|
2,495
|
Persentase absorpsi
|
(A-C) / C x 100%
|
6,995%
|
Rata-Rata
| |
Apparent Specific Gravity
|
2,787
|
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering
|
2,560
|
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
|
2,466
|
Persentase absorpsi
|
7,863%
|
Analisis
Berdasarkan hasil percobaan, persentase absorpsi air dapat diperoleh dengan menghitung selisih berat benda uji dalam keadaan SSD dan keadaan kering yang kemudian dibandingkan terhadap berat benda uji dalam keadaan kering. Angka persentase absorpsi air ini nantinya akan digunakan sebagai pedoman saat melakukan mix design. Semakin besar persentase absorpsi, semakin banyak air yang perlu untuk ditambahkan.
6. Analisis Saringan Agregat Halus
Tujuan Percobaan
Menentukan distribusi ukuran partikel dari agregat halus dengan uji saringan.
Alat dan Benda Uji
Alat
- Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0,2% dari berat benda uji.
- Satu set saringan dengan ukuran.
Nomor Saringan
|
Ukuran Lubang
|
Keterangan
| |
Mm
|
Inchi
| ||
-
|
9,5
|
3/8
|
Perangkat saringan untuk agregat halus. berat minimum contoh 500 gram
|
No.4
|
4,75
|
-
| |
No.6
|
2,36
|
-
| |
No.16
|
1,18
|
-
| |
No.30
|
0,60
|
-
| |
No.50
|
0,003
|
-
| |
No.100
|
0,150
|
-
| |
No.200
|
0,075
|
-
| |
- Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk pemanasan sampai (110±5)oC.
- Alat pemisah contoh (sampel spliter).
- Mesin penggetar saringan.
- Talam-talam.
- Kuas, sikat kawat, sendok, dan alat-alat lainnya.
Benda Uji
Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau dengan cara perempatan. Berat dari contoh disesuaikan dengan ukuran maksimum diameter agregat kasar yang digunakan pada tabel perangkat saringan.
Prosedur Percobaan
- Keringkan agregat sampel tes dengan berat yang telah ditentukan pada temperatur (110±5)oC, kemudian dinginkan pada temperatur ruangan.
- Timbang kembali berat sampel agregat yang digunakan.
- Persiapkan saringan yang akan digunakan.
- Setelah saringan disusun, letakkan sampel agregat di atas saringan.
- Goyangkan saringan dengan tangan/mesin.
- Hitung berat agregat pada masing-masing nomer saringan.
- Total berat agregat setelah dilakukan saringan dibandingkan dengan berat semula. Jika perbedaannya lebih dari 0,3 % dari berat semula sampel agregat yang digunakan, hasilnya tidak dapat digunakan.
Hasil Percobaan
Menghitung persentase berat benda uji yang bertahan di atas masing-masing saringan terhadap berat total benda uji.
Modulus Kehalusan = (persentase tertahan komulatif)/100
Ukuran Saringan (mm)
|
Berat Tertahan (gr)
|
Persentase Tertahan
|
Persentase Tertahan Kumulatif
|
Persentase Lolos Kumulatif
|
SPEC ASTM C33-90
|
9,50
|
-
|
-
|
-
|
100%
|
100
|
4,75
|
1
|
0,2%
|
0,2%
|
99,8%
|
95-100
|
2,36
|
56
|
11,2%
|
11,4%
|
88,6%
|
80-100
|
1,18
|
121
|
24,2%
|
35,6%
|
64,4%
|
50-85
|
0,60
|
141
|
28,2%
|
63,8%
|
36,2%
|
25-60
|
0,30
|
75
|
15%
|
78,8%
|
21,2%
|
10-30
|
0,15
|
73
|
14,6%
|
93,4%
|
6,6%
|
2-10
|
0,075
|
33
|
6,6%
|
100%
|
0
| |
PAN
| |||||
Modulus Kehalusan = 3,832
| |||||
Analisis
Berdasarkan hasil analisa grafik yang didapat dari hasil percobaan, diketahui bahwa kurva persentase lolos kumulatif agregat halus berada tepat diantara batas atas dan batas bawah yang ditentukan sesuai SPEC ASTM C33-90 sehingga dapat disimpulkan bahwa agregat halus layak untuk digunakan.
7. Analisis Saringan Agregat Kasar
Tujuan Praktikum
Menentukan distribusi ukuran partikel dari agregat halus dengan uji saringan.
Alat dan Benda Uji
Alat
- Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0,2% dari berat benda uji.
- Satu set saringan dengan ukuran.
Nomor Saringan
|
Ukuran Lubang
|
Keterangan
| |
Mm
|
Inchi
| ||
-
|
9,5
|
3/8
|
Perangkat saringan untuk agregat halus. berat minimum contoh 500 gram
|
No.4
|
4,75
|
-
| |
No.6
|
2,36
|
-
| |
No.16
|
1,18
|
-
| |
No.30
|
0,60
|
-
| |
No.50
|
0,003
|
-
| |
No.100
|
0,150
|
-
| |
No.200
|
0,075
|
-
| |
- Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk pemanasan sampai (110±5)oC.
- Alat pemisah contoh (sampel spliter).
- Mesin penggetar saringan.
- Talam-talam.
- Kuas, sikat kawat, sendok, dan alat-alat lainnya.
Benda Uji
Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau dengan cara perempatan. Berat dari contoh disesuaikan dengan ukuran maksimum diameter agregat halus yang digunakan pada tabel perangkat saringan.
Prosedur Percobaan
- Keringkan agregat sampel tes dengan berat yang telah ditentukan pada temperatur (110±5)oC, kemudian dinginkan pada temperatur ruangan.
- Timbang kembali berat sampel agregat yang digunakan.
- Persiapkan saringan yang akan digunakan.
- Setelah saringan disusun, letakkan sampel agregat di atas saringan.
- Goyangkan saringan dengan tangan/mesin.
- Hitung berat agregat pada masing-masing nomer saringan.
- Total berat agregat setelah dilakukan saringan dibandingkan dengan berat semula. Jika perbedaannya lebih dari 0,3 % dari berat semula sampel agregat yang digunakan, hasilnya tidak dapat digunakan.
Hasil Percobaan
Ukuran Saringan (mm)
|
Berat Tertahan (gr)
|
Persentase Tertahan
|
Persentase Tertahan Kumulatif
|
Persentase Lolos Kumulatif
|
SPEC ASTM C33-90
|
25,00
|
217
|
10,86%
|
10,86%
|
89,14%
|
100
|
19,00
|
1704
|
85,29%
|
96,15%
|
3,85%
|
90-100
|
9,50
|
70
|
3,50%
|
99,65%
|
0,35%
|
20-55
|
4,75
|
5
|
0,25%
|
99,9%
|
0,10%
|
0-10
|
2,38
|
2
|
0,10%
|
100%
|
0
|
0-5
|
Modulus Kehalusan = 4,0656
| |||||
Analisis
Berdasarkan analisa grafik yang didapat dari hasil percobaan, diketahui bahwa kurva gradasi agregat kasar berada di luar batas atas dan juga batas bawah sehingga tidak sesuai dengan ketentuan SPEC ASTM C33-90. Secara keseluruhan bisa disimpulkan bahwa agregat kasar tersebut tidak layak untuk digunakan. Kondisi tidak ideal ini terjadi karena berbagai kemungkinan kesalahan, terutama teknis mengguncangkan saringan yang kurang baik dapat menyebabkan agregat yang seharusnya lolos menjadi tidak lolos karena celah saringan yang tertutup dengan agregat kasar lainnya. Untuk mencapai kondisi yang ideal dapat dilakukan pengguncangan atau penyaringan dengan lebih teliti.
8. Pemeriksaan Zat Organik dalam Agregat Halus
Tujuan Percobaan
Menentukan kadar organik yang terkandung dalam agregat halus.
Alat dan Benda Uji
Alat
- Botol gelas tembus pandang dengan penutup karet/gabus/ bahan penutup lainnya yang tidak bereaksi terhadap NaOH dengan volume gelas = 350 mL.
- Standar warna (Organic Plate).
- Larutan NaOH 3%.
Benda Uji
Contoh pasir dengan volume sebanyak 115 mL atau satu per tiga volume botol.
Prosedur Percobaan
- Masukkan 115 mL pasir ke dalam botol tembus pandang (kurang lebih satu per tiga isi botol).
- Tambahkan larutan NaOH 3%. Setelah dikocok, isi dari botol harus mencapai kira-kira tiga per empat volume botol.
- Tutup botol gelas tersebut dan kocok hingga lumpur yang menempel pada agregat nampak terpisah dan biarkan selama 24 jam agar lumpur tersebut mengendap.
- Setelah 24 jam, bandingkan warna cairan yang terlihat dengan standar warna nomor 3 pada organic plate.
Hasil Percobaan
Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan warna cairan berada diantara warna indikator organic plate nomor 3 dan 5 sehingga dikategorikan sesuai dengan warna indikator organic plate nomor 4.
Analisis
Agregat halus dalam percobaan tidak dapat digunakan untuk concrete mix design karena melebihi batas maksimum kandungan bahan organik yang diizinkan yakni indikator organic plate nomor 3. Kondisi tidak ideal ini terjadi karena berbagai kemungkinan kesalahan, diantaranya adalah botol yang tidak bersih dari sisa kandungan organik lumpur yang sebelumnya. Untuk mencapai kondisi yang ideal dapat ditingkatkan ketelitian dalam memakai alat percobaan.
9.Pemeriksaan Kadar Lumpur dalam Agregat Halus
Tujuan Percobaan
Menentukan besar persentase kadar lumpur dalam agregat halus yang digunakan sebagai campuran beton.
Alat dan Benda Uji
Alat
Gelas ukur.
Alat pengaduk.
Benda Uji
Contoh pasir secukupnya dalam kondisi lapangan dengan bahan pelarut biasa.
Prosedur Percobaan
- Contoh benda uji dimasukkan ke dalam gelas ukur.
- Tambahkan air pada gelas ukur guna melarutkan lumpur.
- Gelas dikocok untuk mencuci agregat halus dari lumpur.
- Simpan gelas pada tempat yang datar dan biarkan lumpur mengendap setelah 24 jam.
- Ukur tinggi pasir (V1) dan tinggi lumpur (V2).
Hasil Percobaan
Vpasir = 168 mL
V lumpur = 4 mL
V total = V pasir + Vlumpur = 168 mL + 4 mL = 172 mL
%Lumpur = 4/172×100% =2,3256%
Analisis
Didapatkan kadar lumpur dalam agregat halus sebesar 2,3255% sehingga agregat halus dapat digunakan sebagai material penyusun beton karena telah memenuhi ketentuan bahwa sebagai penyusun beton yang baik, agregat halus sebaiknya memiliki kadar lumpur kurang dari 5%.


No comments:
Post a Comment